Nabi SAW bersabda, “Kita telah kembali dari perang kecil (al-jihad al-asghar) menuju perang besar (al-jihad al-akbar)”. Ketika para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan perang besar itu?” Nabi menjawab, “Perjuangan melawan hawa nafsu!”


Perjalanan ruhani menggapai keredhaan Ilahi pada hakikatnya adalah pergulatan diri melawan hawa nafsu (Mujahadatun Nafsi). Manusia yang telah sukses menaklukan hawa nafsu primitifnya sendiri, dia akan mencapai musyahadah, tersibaknya tabir antara Khaliq dan makhluk-Nya sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya, “Barangsiapa yang berjuang demi Kami, Kami akan menunjuki mereka kepada jalan Kami.” (QS. AR-Rum: 69)


Selama ini ungkapan perang melawan hawa nafsu kerap berhenti sebatas jargon, tidak ada upaya sungguh-sungguh menempatkannya sebagai sebuah “proses menjadi”. Padahal kita maklum, mujahadatun nafsi menescayakan adanya disiplin yang tinggi dan latihan terus-menerus (riyadhah), sehingga pada gilirannya dari intensitas riyadhah inilah, kita akan mengenyahkan jiwa rendah yang merupakan potensi dasar dari segala bentuk kejahatan, anarkisme, dan prilaku-prilaku a-hu manis lainnya. Rasulullah SAW bersabda, “Sejahat-jahat musuhmu adalah jiwa rendahmu yang berada di dua sisimu.”

Mengobarkan perlawanan terhadap hawa nafsu tanpa riyadhah, sama saja artinya kita menanamkan asa ingin menjadi Jenderal Besar sementara sejarah keseharian kita masih setia berkutat mengayunkan cangkul nun jauh di pedesaan sana, bukan maqam semestinya: sebentuk mujahadatun nafsi yang setengah hati.


Selama kita masih tidak serius dalam menggempur hawa nafsu, maka peluang untuk bertindak destruktif, berbuat dosa aniaya, menimbulkan kekerasan dan menistakan kemanusiaan, kian terbuka. Dengan kata lain hawa nafsu sebagai kuda tunggangan setan akan leluasa mengobok-mengobok hati manusia, sebab sejatinya hawa nafsu (dan jiwa rendah) adalah representasi setan, seperti isyarat nabi, “Tidak ada seorang pun yang syaitannya (hawa nafsu) tidak takluk kecuali Umar, karena dia telah menaklukkan syaitannya.”

Melihat “kedalam” dampak lebih lanjut dari mujahadah nafsi yang setengah hati, apalagi tidak sama sekali, adalah kita akan sangat rentan dijangkiti dan mengikuti pikiran serta lintasan setan (was-was). Seperti diungkap teorinya Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya-nya bab ‘Ajaib al-Qalb, pikiran yang menggerakkan keinginan untuk kemudian ditransformasikan menjadi tindakkan (‘amal) itu tidak terlepas dari dua hal.

  • Pertama, pikiran yang menarik kepada kejahatan yang disebut was-was tadi, dimana sebab dan sumbernya adalah syaitan.

  • Kedua, pikiran yang mengajak kepada kebajikan yang disebut ilham, dimana sumber dan muaranya adalah malak.

Baik malak sebagai simbol dari suatu makhluk yang dijadikan Allah untuk bertugas melimpahkan kebaikan, mentransfer ilmu; menguak kebenaran, dan menjanjikan kebenaran, dan menjanjikan kebaikan serta amar ma’ruf, maupun setan sebagai simbol makhluk yang kelakuannya terbalikan dari tugas-tugas malak tadi, kedua-duanya sama-sama mewariskan saham kedalam jiwa seseorang.

Saham dari malak lewat ilham dikatakan taufiq, sementara syaitan menanamkan jasa via was-was berupa ighwa (penyesatan) dan khidzlan (penghentian pertolongan). Dalam kontek ini pula Nabi bersabda, “Bahwa dalam jiwa ada dua langkah: Pertama, Langkah dari malaikat yang berupa, menjanjikan kebaikan dan membenarkan yang hak. Maka barangsiapa yang menemukan sifat-sifat demikian hendaklah ia tahu bahwa itu dari Allah yang Maha Suci dan hendaklah ia memanjatkan puji kepada-Nya; Kedua, langkah dari syaitan yang berupa, ajakan kejahatan, memanipulasi kebenaran dan melarang berbuat baik. Barangsiapa yang mendapatkan hal demikian, hendaklah memohon perlindungan Allah dari syaitan yang terkutuk. Kemudian Baginda membaca firman Allah, “Syaitan itu mengancam kamu sekalian dengan kemelaratan dan menyuruh kamu berbuat jahat.”

Dari sini kian tampak jelas, hawa nafsu (dan syahwat) itu merupakan senjata syaitan, maka untuk menumpulkan senjata tersebut tidak ada jalan lain kecuali dengan kita mengobarkan mujahatun nafsi lewat disiplin dan latihan yang ketat (riyadhah), konsistensi (istiqamah), dan sikap yang bulat (kiffah) dalam menjalankan titah Tuhan (QS. Bani Isra’il: 63; Al-An’am: 153) samapai batas tidak ada ruang lagi bagi syaitan untuk menanamkan harta bendanya yang berupa hawa nafsu.

Diriwayatkan dari sufi terkemuka Jabir Ibnu Ubaidillah, ia berkata, “Saya pernah mengeluh kepada al-A’la ibn Jiyad tentang was-was yang bersemayam dalam dada saya, maka beliau berkata bahwa hal itu laksana sebuah rumah yang dilalui oleh beberapa pencuri kalau didalam rumah itu ada sesuatu (harta), maka mereka (pencuri-pencuri) itu berusaha keras mengambilnya. Dan apabila di dalam rumah itu tidak ada apa-apanya, maka rumah itu akan mereka lalui dan mereka tinggalkan. Begitupun tamsil diri yang bersih dari hawa nafsu itu tidak akan digerayangi oleh syaitan karena, lanjut al-A’la, Allah SWT. berfirman, sesungguhnya hamba-hamba-Ku itu tidak ada kekuasaan bagimu (syaitan) atas mereka.” (QS. Bani israil: 65)

Kesimpulannya, memerangi hawa nafsu ini merupakan suatu keharusan, sebab sekali lengah, setengah hati, dan apalagi abai, maka isyarat hawa nafsu akan keluar sebagai pemenang, mendominasi, dan mengendalikan kita; larut dalam konsentrasi dunia kefanaan dan melemparkan jauh-jauh nilai-nilai ukhrawi.

Apalagi kita maklum, syaitan sangat cerdas dan licik dan menggunakan tektik-tektik dalam memainkan “kurnianya” iaitu hawa nafsu, syahwat, jiwa rendah manusia, agar manusia terbuai serta larut dalam irama permainannya, sebagaimana tekad mereka yang terekam dalam QS. Al-A’raf: 16-17, “Sungguh akan kutahan untuk manusia itu jalan-Mu yang benar, kemudian kuserang mereka dari depan, belakang, kanan dan kiri mereka.”

“Sesungguhnya syaitan itu musuh kamu sekalian, maka anggaplah itu sebagai lawan, hanya syaitan itu akan memanggil teman-temannya agar mereka menemaninya menjadi penghuni neraka sa’ir” (QS. Fathir: 6)

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya syaitan itu menghalang manusia melalui berbagai jalan. Mula-mula ia menghalang dengan jalan Islam. Berkata syaitan, “Apakah engkau akan masuk islam, sedangkan agama keturunanmu dan agama nenek moyangmu akan kau campakkan begitu saja?’ Manusia itu tidak menghiraukannya dan terus saja masuk Islam. Lalu syaitan menghalang lagi melalui pintu hijrah, katanya, ‘Apakah engkau akan berhijrah? Relakah kamu meninggalkan sawah@tanah ladangmu?’ Manusia itu tidak juga menghirauinya dan dia pun berhijrah. Si syaitan menahan lagi melalui pintu jihad, ujarnya berkali-kali; ujarnya lagi, ‘Akan berjuangkah engkau?’ Padahal itu akan mengancam keselamatan jiwa dan akan mengurangi harta bendamu, engkau akan berjihad dan kemudian engkau terbunuh.., isteri-isterimu akan dikahwini orang dan harta bendamu dibahagi-bahagikan.’ Maka manusia itu tidak mau mematuhi pujukan dan rayuan@tipu daya syaitan itu dan dia pun berjihad....”

Hasilnya, apabila dalam kehidupan ini kita kalah melawan pesona membius godaan hawa nafsu, yang ditenggarai dengan menurutkan hawa nafsu, maka sejatinya kita adalah hamba hawa nafsu tersebut, bukan hamba ALLAH dan kerana itu ALLAH menguasakan syaitan atasnya. “Adakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya.” (QS. Al-Jatsiyah: 23). “Dia yang telah menurutkan hawa nafsunya adalah laksana seekor anjing. Kalau engkau bebani anjing itu ia akan menjulurkan lidahnya atau kau biarkan (tidak kau bebani) iapun akan menjulurkan lidahnya.” (QS. Al-A’raf: 174)

Namun sebaliknya, manakala hawa nafsu lunglai oleh kegigihan mujahadah kita, maka kita adalah pejuang sejati yang keluar sebagai pemenang dalam pertempuran kolosal (al-jihad al-akbar). Kita pun layak menobatkan diri sebagai hamba ALLAH dengan segala piala, penghargaan, fasilitas hakiki yang akan dihibahkan oleh-Nya baik “disini” sekarang, ataupun “disana” kelak dialam keabadian (QS. An-Naji’at: 40-41).

Wallahu A’lam.
..


Aku rindu hari dimana malam terasa begitu singkat,
Ketika malam tidak lagi sepi oleh deru nafas yang kosong
Semuanya bergerak,, semuanya berlari cuba mejadi pemenang dan meninggalkan pecundang dibelakang..
Kantuk yang ditegakkan oleh sebuah keyakinan yang membumi,
Mulut yang tiada henti memuja dan menjaga,,
Lembaran halaman yang terusik dari pengasingannya,,

Karena aku sangat merindukan mu,,


PERMOHONANA ADALAH DI PELAWA BAGI MENGISI KEKOSONGAN JAWATAN



MAKMUM SOLAT JEMAAH LIMA WAKTU

PENDAPATAN LUMAYAN = 27 KALI GANDA PAHALA 5x SEHARI


ELAUN PERJALANAN = 1 LANGKAH KE MASJID/SURAU = 1 PAHALA DAN
TERHAPUS 1 DOSA




BONUS MINGGUAN/
BULANAN = KHUTBAH JUMAAT, KULIAH SUBUH DAN KULIAH
MAGHRIB




KELAYAKAN


BALIGH, LELAKI DAN PEREMPUAN, TIDAK GILA DAN UZUR SYARI'IE




HADIR TEMUDUGA

DI MASJID DAN SURAU BERDEKATAN KEDIAMAN ANDA WAKTU/MASA SUBUH, ZOHOR, ASAR, MAGHRIB DAN ISYAK




TARIKH TUTUP

SEBELUM MATI ATAU TIBA HARI KIAMAT

Umat Islam di seluruh dunia akan memasuki fasa ketiga pelaksanaan ibadat puasa serta amal-amal ibadat sunat yang lain pada minggu hadapan, ini bermakna sedar atau tidak, Ramadan tetap akan meninggalkan kita buat tempoh setahun.

Apa yang perlu sama-sama kita ingatkan antara satu sama lain, ialah kenangan positif yang kita kecap sepanjang berada dalam bulan Ramadan, iaitu bulan yang dipenuhi dengan segala macam keberkatan, rahmat, keampunan Ilahi serta program-program yang dapat membebaskan diri daripada api neraka.

Itulah bulan yang banyak memberi kita peluang untuk mendapatkan rahmat Allah, keampunan-Nya dari segala kesalahan yang telah kita lakukan sebelum ini, memohon kepada-Nya agar diri kita, keluarga serta anak-anak bebas daripada siksaan api neraka.

Masa yang paling sesuai untuk kita lakukan kesemua itu adalah di tengah malam, di ketika ramai manusia sedang seronok tidur dan mungkin juga sebahagian mereka sedang menonton rancangan kesukaan mereka, kerana pada waktu itu suasana hening menyelubungi manusia, justeru waktu itu juga amat berkesan untuk menyatakan rasa hati kepada Maha Pencipta.

Apatah lagi pada malam akhir-akhir di bulan Ramadan, terdapat satu malam yang disebut oleh Allah SWT dengan jelas sebutan namanya yang mulia dalam satu surah yang pendek, malam yang diturunkan padanya kitab suci al-Quran sebagai petunjuk kepada manusia menuju jalan kebenaran dan keselamatan di dunia dan akhirat, iaitulah malam yang sangat dikenali dengan Lailatul Qadr - atau diterjemahkan sebagai malam takdir.




Dalam al-Quran, Allah SWT berfirman yang bermaksud:

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) ini pada Malam Lailatul-Qadar, Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui apa dia kebesaran Malam Lailatul-Qadar itu? Malam Lailatul-Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Pada Malam itu, turun malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun yang berikut); Sejahteralah Malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar!"

(Quran, Al-Qadr 97: 1-5)
Berdasarkan ayat di atas dapat dilihat bahawa malam al-Qadar disebut juga dengan malam yang penuh keberkatan. Sebab pada malam itu Allah mencucuri pelbagai rahmat, keampunan dan keberkatan kepada orang yang beramal dengan khusyuk dan berdoa dengan penuh keikhlasan.

Kepada mereka Allah memberikan ganjaran kebaikan yang sama nilainya dengan beramal seribu bulan. Firman Allah bermaksud:

"Malam al-Qadar itu itu lebih baik daripada seribu bulan"

(Surah al-Qadr, ayat 3).

Sebab-sebab Allah adakan Lailatul Qadr

Allah SWT Taala yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, amat menyayangi hamba-Nya yang taat beribadat kepada-Nya, ia tidak lain adalah untuk menganugerahkan kepadanya pahala-pahal yang banyak, supaya dengannya dia akan dapat masuk syurga.

Terdapat beberapa pandangan ulama yang menyebut bahawa, Allah SWT mempunyai sebab kenapa Dia mengadakan Lailatul Qadr buat umat Nabi Muhammad s.a.w antara lain;

Menurut Imam Malik, Rasulullah melihat bahawa umur umatnya tidak sepanjang umat sebelum mereka, baginda bermohon kepada Allah memberikan peluang di mana umatnya supaya dapat beramal dengan yang nilainya sama dengan amalan umat sebelum mereka.

Sementara Imam al-Qurtubi pula berpendapat, Rasulullah diperlihatkan kepadanya usia umat terdahulu, maka Baginda berasa usia umatnya terlalu pendek hingga tidak mungkin dapat mencapai amal seperti yang diraih oleh umat terdahulu yang usianya panjang. Purata usia umat Muhammad antara 60 hingga 70 tahun menurut maksud satu hadis Rasulullah. Sebab itu Allah menawarkan malam al-Qadar yang mempunyai nilai pahala seribu bulan kepada Rasulullah, para sahabat malah kepada seluruh umat baginda s.a.w.

Justeru, malam al-Qadar adalah satu kurniaan Ilahi yang dianugerahkan oleh Allah kepada Rasulullah dan umatnya sebagai tanda kasih sayang dan rahmat-Nya yang menyeluruh. Amal kebajikan seseorang hamba Allah pada malam itu adalah lebih baik daripada amal kebajikan selama seribu bulan atau menurut ulama sebagai 83 tahun empat bulan.

Dorongan Nabi supaya umatnya terus beribadat pada malam tersebut

Kerana keutamaan ini, Rasulullah menganjurkan umatnya agar mencari dan seterusnya mendapatkan malam al-Qadar yang penuh keberkatan itu. Dalam hal ini, Rasulullah perlu dijadikan ikutan yang menampilkan teladan terpuji dalam menghidupkan malam terakhir Ramadan.
Ini dilakukan dengan melaksanakan iktikaf, membangunkan keluarga agar lebih meningkatkan amalan ibadat pada malam hari dan tidak mendekati isterinya dengan tujuan memperbanyakkan amal ibadat di masjid seperti solat tahajud, Witir, solat Tarawih, membaca dan tadarus al-Quran serta berzikir kepada Allah dan amalan solih lain yang dianjurkanIslam.

Rasulullah sentiasa memanjatkan doa ke hadrat Ilahi. Antara yang sering Baginda baca ialah doa maksudnya: "Wahai Tuhan kami! Anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan juga kebajikan di akhirat serta peliharakanlah kami daripada seksaan api neraka yang pedih."



Doa yang dilafazkan itu bukan sekadar satu permohonan untuk memperoleh kebajikan dunia dan akhirat, malah untuk memantapkan langkah dan kesungguhan agar dapat meraih kebajikan yang dijanjikan Allah. Ini kerana doa itu sendiri membawa maksud satu permohonan yang penuh tulus dan pengharapan, di samping disusuli dengan usaha melipatgandakan amal ibadat yang mendekatkan diri kepada Allah.

Selain itu, setiap Muslim dianjurkan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah daripada sebarang kesalahan dan dosa selama ini. Setiap manusia tidak terlepas daripada kealpaan dan seterusnya melakukan kesalahan yang dilarang Allah. Dalam hal ini, Rasulullah bersabda maksudnya:

Setiap anak Adam tidak akan terlepas daripada melakukan dosa dan sebaik-baik orang daripada kalangan yang berdosa itu ialah yang bertaubat kepada Allah.

(Hadis riwayat Tirmizi dan Ibnu Majah)

Berdasarkan permohonan inilah maka Allah menurunkan Lailatul Qadar.

Hikmah dirahsiakan kehadirannya

Sesungguhnya ayat al-Quran yang menceritakan tentang masa berlaku Lailatul Qadr, tidak dijelaskan secara jelas, kerana ia bertujuan agar manusia tidak hanya tertumpu pada satu malam sahaja jika mereka tahu malam tersebut, justeru ia dirahsiakan agar mereka menghidupkan setiap malam terakhir Ramadan dengan amalan-amalan yang pernah dilakukan oleh baginda, para sahabat dan para solihin terdahulu.

Syeikh Muhammad Abduh berpendapat bahawa sebab malam itu diturunkan kepada umat Muhamad kerana Qadar itu bermakna ketentuan atau takdir. Pada malam itu Allah mula mentakdirkan agama-Nya dan memerintahkan nabi-Nya untuk menyeru manusia kepada agama yang melepaskan mereka daripada segala kehancuran dan kerosakan.

Pendapat Syeikh Muhammad Abduh ini berdasarkan kenyataan bahawa al-Quran pertama kali diturunkan pada malam al-Qadar. Turunnya al-Quran pada dasarnya adalah watikah pelantikan Muhammad sebagai nabi dan rasul yang bertanggungjawab menyampaikan risalah Islam. Begitu juga dalam mengubah corak hidup manusia daripada alam jahiliah kepada suasana Islam. Ertinya malam al-Qadar itu adalah malam disyariatkan Islam kepada umat Nabi Muhammad sebagai agama penyelamat untuk seluruh alam.

Ada ulama lain yang menyatakan bahawa penyebab dikatakan dengan malam al-Qadar kerana pada malam itu Allah menetapkan takdir setiap makhluk baik berupa rezeki, umur atau sakit atau sihatnya seseorang untuk jangka masa setahun, iaitu dari malam al-Qadar tahun ini hingga ke malam al-Qadar tahun depan.

Mengenai jatuhnya malam al-Qadar, ulama berbeza pendapat mengenainya. Imam Nawawi berkata bahawa sebahagian ulama menyatakan malam itu bergilir dari tahun ke tahun. Ertinya apabila pada tahun ini berlaku pada malam 29 Ramadan, maka tahun akan datang datang pada malam berbeza.

Hal sama dikatakan oleh Ibn Hazm bahawa Lailatul Qadar itu ada kalanya pada malam 21, 23, 25, 27 atau 29 Ramadan.

Sementara menurut jumhur ulama, Lailatul Qadar berlaku pada malam yang sama pada setiap Ramadan iaitu pada malam 27 Ramadan. Ini berdasarkan hadis Rasulullah daripada Ubai bin Ka'ab yang diriwayatkan oleh Tirmizi dan hadis dari Mu'awiyah yang diriwayatkan Abu Dawud. "Saya mendengar Rasulullah bersabda carilah Lailatul Qadar itu pada malam 27."

Sebahagian sahabat dan ulama mencuba menentukan Lailatul Qadar dengan cara lain, iaitu menggunakan rumusan tertentu.

Ibnu Abbas berkata bahawa surah al-Qadr itu terdiri daripada 30 kalimah. Kata salamum hiya (selamat sejahteralah malam itu) berada pada kalimah yang ke-27. Oleh itu Ibnu Abbas menyatakan bahawa malam al-Qadar berlaku pada malam ke-27.

Sementara sebahagian ulama menyatakan bahawa kalimat Lailatul Qadr terdiri daripada sembilan huruf. Dalam surah al-Qadr kata-kata Lailatul Qadr itu diulang-ulang sebanyak tiga kali. Maka sembilan darab tiga adalah 27. Maknanya Lailatul Qadar itu berlaku pada malam 27.

Sementara ulama lain seperti Ahmad Marzuk dan Ibnu Arabi berpendapat bahawa Lailatul Qadar itu berlaku pada malam Jumaat ganjil pada 10 malam terakhir Ramadan.

Namun dalil yang paling kuat mengenai Lailatul Qadar adalah hadis daripada Aishah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari."Carilah sedaya-upaya kamu Lailatul Qadar itu pada sepuluh malam ganjil pada akhir Ramadan."

Perbezaan pendapat sahabat dan ulama ini sebenarnya adalah satu kenyataan bahawa tidak ada satu dalil jelas yang menunjukkan bila malam ini berlaku. Tetapi sahabat dan ulama bersepakat dengan hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Aishah tadi bahawa malam itu berlaku pada sepuluh malam ganjil akhir Ramadan.

Menurut Prof Wahbah al-Zuhayli, sebab dirahsiakan Lailatul Qadar supaya umat Islam sentiasa berusaha beribadah pada setiap malam Ramadan tanpa menumpukan pada satu malam saja. Ini kerana setiap malam pada Ramadan memiliki hikmah dan rahsia tersendiri.

Tanda-tanda berlakunya Lailatul Qadr

Di antara tanda yang sempat terlihat pada masa Nabi s.a.w adalah bahwasanya ketika baginda bersujud di waktu Subuh di atas tanah yang dibasahi dengan air, ertinya bahawa pada malam itu turun hujan sehingga baginda sujud di atas tanah yang berair.
Lailatul Qadr adalah malam dibukanya seluruh pintu kebaikan, didekatkannya para kekasih Allah, didengarkannya permohonan dan dijawabnya segala doa, amal kebaikan pada malam itu ditulis dengan pahala sebesar besarnya, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Maka hendaknya kita berusaha untuk mencarinya dengan bersungguh-sungguh.

Malam itu tenang dan hening, keadaannya tidak dingin dan tidak panas; siangnya pula memancarkan cahaya matahari yang warnanya pucat; pada malam itu juga malaikat Jibril akan menyelami orang yang beribadat pada malam itu dan secara tiba-tiba kita akan rasa sangat sayu dan kemudiannya menangis teresak-esak.

Ada pendapat yang berkata, bahawa orang yang menemui lailatul qadar akan melihat nur yang terang benderang di segenap tempat hingga keseluruhan ceruk yang gelap gelita.

Ada pula menyatakan bahawa kedengaran ucapan salam dan kata-kata yang lain daripada malaikat.

Ada juga yang melihat segala benda termasuk pohon-pohon kayu rebah sujud.

Ada yang berkata doa permohonannya makbul.

Fokus umat pada malam tersebut

Lailatul Qadr seperti yang dijelaskan di atas, adalah masa yang paling sesuai untuk mengajukan segala permohonan kepada Allah SWT, apa yang perlu dilakukan pada malam tersebut ialah dengan perkara-perkara berikut:

Menghayati malam tersebut dengan ibadah.

Beriman dengan yakin bahawa malam lailatul qadar itu adalah benar dan dituntut menghayatinya dengan amal ibadah.

Amal ibadah itu dikerjakan kerana Allah semata-mata dengan mengharapkan rahmat dan keredhaanNya.

Kesimpulan, persoalan bila sebenarnya berlakunya Lailatul Qadr, hanya Allah SWT sahaja yang tahu.

Apa yang telah dinyatakan kepada kita melalui hadis-hadis Nabi s.a.w ialah tanda-tanda dan juga malam-malam yang kemungkinan berlakunya Malam al-Qadr.

Berdasarkan hadis Nabi s.a.w menghidupkan 10 malam terakhir dengan beriktikaf, ramai di kalangan ulama' cenderung mengatakan bahawa malam tersebut kemungkinan besar akan berlakunya Malam al-Qadr.

Mengenai cerita pelik yang berlaku, usahlah dijadikan pegangan, oleh kerana para sahabat juga mencari Malam Al-Qadr dengan berdasarkan tanda-tanda yang telah Nabi saw ceritakan kepada mereka. Malah, tidak terdapat sebarang periwayatan mengenai apa yang telah dilihat oleh para sahabat. Maka tidak melihat, tidak bermakna tidak mendapat ganjaran Malam al-Qadr!

Fikir masalah umat ketika sedang beritikaf adalah ibadat

Bukan sahaja melakukan ibadat qiyamullail itu dikira sebagai satu amal ibadat yang baik di sisi Allah SWT, malah memikirkan sesuatu khususnya mengenai masalah yang melanda umat Islam hari ini juga dikira sebagai ibadat yang besar, apatah lagi ketika menjalani proses beri’tikaf dalam masjid pada malam-malam terakhir Ramadan.

Lebih-lebih lagi masalah umat secara global, sama ada keruntuhan moral, perilaku, akhlak di kalangan remaja lelaki mahupun perempuan, masalah krisis keyakinan terhadap Islam di kalangan mereka yang mempunyai profil tinggi dan lain-lain, kesemua itu dapat ditangani jika masing-masing memainkan peranan sebagai hamba Allah yang mempunyai jati dirisebagai orang yang bertakwa seperti yang dituntut dalam ayat mengenai matlamat pelaksanaan ibadat puasa.

Fadilat Lailatul Qadr

Mungkin terdapat sesetengah orang menyangka bahawa mendirikan Qiyamullail pada disepertiga (1/3) malam iaitu dengan hanya bersolat Tarawih (Qiyam Ramadan) berjemaah pada awal malam, iaitu selepas Solat Ba'diyah Isya'. Apakah orang seperti ini mendapat ganjaran atau pahala seperti mereka yang bersolat di malam Al-Qadr (sekiranya berlaku Lailatul Qadr pada malam tersebut)?

Berkata Muhaddis terkenal, Sheikh Nasyirudin Al-Albani (didalam buku Risalah Qiyam Ramadan) :

"Sebaik-baik malam ialah Malam Al-Qadr, kerana baginda s.a.w bersabda :'Barangsiapa yang berqiyam pada Malam Al-Qadr (berjaya mendapatkannya) dengan keimanan dan pengharapan, telah diampunkan dosa-dosa yang telah lalu'

[Hadith riwayat kedua Sheikh dari hadith Abu Hurairah, Ahmad 5/318].

Sementara Sheikh Dr Yusuf Al-Qaradhawi menceritakan mengenai syarat beramal pada malam Al-Qadr, katanya :"Membawa kepada apa yang harus dilakukan oleh seorang Islam pada malam tersebut ialah : bersolat Isya' berjemaah, Solat subuh berjemaah dan pada malamnya mendirikan qiyamullail.

Di dalam Sahih diriwayatkan bahawa Nabi bersabda :

"Barangsiapa yang bersolat Isya' berjemaah, seolah-olah ia berqiam di separuh malam, dan barangsiapa yang bersolat subuh berjemaah, seolah-olah ia bersolat disepanjang malam tersebut.

(Riwayat Ahmad, Muslim dan lafaznya, dari hadis Osman, Sahih Jami' Saghir - 6341).

Dan tujuannya ialah : Barangsiapa yang bersolat Subuh dengan tambahan-tambahan di dalam waktu Isya', adalah sebagaimana yang diriwayatkan di dalam Hadis Abu Daud dan Tirmizi :

"Barangsiapa yang solat Isya' berjemaah bagaikan berqiyam separuh malam,dan barangsiapa bersolat Isya' dan Fajar bagaikan ia berqiyam sepenuh malam

(sumber yang sama - 6342)."

Semoga tahun ini kita mendapat rezeki untuk bertemu dengan Lailatul Qadr, iaitu satu malam yang penuh dengan misteri, supaya pahala amalan kita dilipat gandakan oleh Allah dan dikira sebagai amal-amal yang soleh, InsyaAllah.




Apakah suatu amalan yang dianjurkan oleh Nabi kita untuk sentiasa mengingati beliau, yang berupa selawat atau ayat Al-Quran yang dapat kita hadiahkan kepada Nabi kita itu pada setiap kali sembahyang atau setiap kali kita mengingatinya?

Apakah ada nas mengenainya?

Ada amalan menghadiahkan Al Fatihah kepada Rasulullah SAW, setiap kali hendak berdoa, adakah ini ada dalam nas?


Selawat ke atas Rasulullah (S.A.W.) merupakan suatu amalan yang disyariatkan oleh Islam.

Firman Allah (s.w.t) yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. [Surah Al-Ahzab: 56]

Manakala di dalam hadith-hadith Rasulullah (S.A.W.), terdapat banyak arahan dan kelebihan-kelebihan yang dinyatakan berkenaan dengan selawat ke atas baginda (S.A.W.), antaranya :-

  1. Sabda Rasulullah (S.A.W.) yang bermaksud: “Barangsesiapa yang berselawat ke atasku dengan sekali selawat nescaya Allah (s.w.t) akan berselawat ke atasnya sepuluh kali”. [Hadith riwayat Imam Muslim daripada Abdullah bin Amru bin Al-‘Ass r.a]
  2. Sabda Rasulullah (S.A.W.) yang bermaksud: “Sesungguhnya manusia yang paling utama denganku pada hari kiamat ialah yang paling banyak berselawat ke atasku”. [Hadith riwayat Imam Tirmizi daripada Abdullah bin Mas’ud r.a]
  3. Sabda Rasulullah (S.A.W.) juga yang bermaksud: “Barangsesiapa yang berselawat ke atasku sekali nescaya Allah akan berselawat ke atasnya sepuluh kali”. [Hadith riwayat Imam Muslim daripada Abu Hurairah r.a]

Kedudukan selawat ke atas nabi (S.A.W.) ini merupakan perkara yang diwajibkan menurut sebilangan besar ulama’. Malahan dinukilkan bahawa Al-Imam Al-Qurthubi menyatakannya sebagai ijma’ ulama’. Apa yang diperselisihkan oleh ulama’ ialah adakah selawat itu wajib pada setiap kali majlis dan disebut nama Nabi Muhammad (S.A.W.) atau adakah ianya sunat (bagi yang bersepakat menyatakan ianya wajib seumur hidup).

Dalam hal ini, sebahagian ulama’ menyatakan ianya wajib setiap kali disebut nama Rasulullah (S.A.W.), dan sebahagian yang lain menyatakan wajib sekali di sepanjang majlis meskipun dalam majlis tersebut kerap kali disebut nama Rasulullah (S.A.W.) dan sebahagian yang lain menyatakan wajib memperbanyakkan selawat tanpa terikat dengan bilangan dan tidak memadai sekali seumur hidup.

Menurut jumhur ulama dalam masalah ini, selawat ke atas nabi (S.A.W.) merupakan ibadat dan jalan mendekatkan diri kepada Allah (s.w.t). Seperti juga zikir, tasbih dan tahmid. Ia diwajibkan sekali seumur hidup dan disunatkan pada setiap waktu dan ketika. Sepatutnya juga ke atas setiap muslim memperbanyakkannya.

Berkait juga dengan soalan yang dikemukakan, iaitu tentang hukum selawat dalam sembahyang. Perkara ini berlaku khilaf di kalangan ulama’. Menurut pandangan Mazhab Syafei dan Hanbali, selawat diwajibkan dalam sembahyang dan tidak sah sembahyang tanpa selawat. Manakala dalam Mazhab Maliki dan Hanafi, selawat merupakan perkara yang sunat muakkad dan sah sembahyang tanpanya tetapi dalam keadaan yang makruh.






glitter-graphics.com

Selamat Berkenalan

ALLAH Matlamat Utamaku

~ حيّ على الصلاة ~

Jom Solat..

Followers

Perkongsian


Islamic Hijri Calendar

Waktu Al-Quds

Sa'atul Misr

K.L time

TERNAKAN KITA..